The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA

Artikel


Detraumatisasi, Neurosains, dan Hipnoterapi Klinis

3 Januari 2018

Hipnoterapi klinis, salah satu pendekatan dalam psikoterapi, sangat efektif mengatasi beragam masalah yang berhubungan dengan perilaku, mental, dan emosi (Barios, 2009). Hipnoterapi klinis, bila dipraktikkan dengan benar, mengikuti protokol yang sahih, mampu membantu klien mengatasi masalah, dari pengalaman klinis kami,  antara satu hingga maksimal empat sesi terapi.

Terkait keefektifan dan kecepatan hipnoterapi klinis mengatasi masalah hingga tuntas, dengan hasil terapi yang stabil hingga waktu lama, saya sengaja menghindari menggunakan kata permanen, ada tiga pertanyaan penting untuk dijawab. Pertama, “Apa yang membuat seseorang trauma, sementara yang lain mengalami hal sama, sama sekali tidak terpengaruh?” Kedua, “Apa yang terjadi di pikiran klien, khususnya pikiran bawah sadar, saat ia menjalani sesi hipnoterapi klinis sehingga bisa sembuh dengan cepat dan hasil terapi yang stabil, bertahan untuk waktu lama?” Dan ketiga, “Apa yang sebenarnya terjadi di otak klien saat ia menjalani sesi hipnoterapi klinis sehingga bisa sembuh dengan cepat?”

Jawaban pertanyaan pertama sudah saya jelaskan di artikel Memahami Trauma dan Penyebabnya dan Memahami Trauma dan Penyembuhannya dari Perspektif Hipnoterapi Klinis dan Neurosains. Pertanyaan kedua juga telah saya jawab dengan jelas dan gamblang dalam banyak artikel yang telah dipublikasikan di AdiWGunawan.com. Jawaban untuk pertanyaan ketiga dijelaskan di artikel ini.

Dalam artikel Memahami Trauma dan Penyebabnya dijelaskan suatu kejadian untuk dapat terekam di otak sebagai memori traumatik butuh lima syarat. Pertama, harus ada kejadian yang menghasilkan emosi. Kedua, kejadian ini memiliki makna bagi individu. Ketiga, kondisi kimiawi otak pada saat kejadian mendukung. Keempat, individu merasa terperangkap, tidak bisa menghindar dari kejadian ini. Kelima, individu merasa tidak berdaya. Bila kelima syarat ini terpenuhi, individu yang mengalami kejadian itu mengalami trauma dengan segala akibat bawaannya.

Apa yang Terjadi di Otak?

Pengalaman traumatik, yang terekam sebagai memori, sejatinya terdiri atas minimal empat komponen. Pertama, emosi atau perasaan. Kedua, komponen kognitif pikiran sadar yaitu konten mental yang kita pikirkan atau perhatikan, kita sadari keberadaan dan maknanya. Ketiga, komponen kognitif pikiran bawah sadar yaitu konten mental yang muncul karena terpicu oleh faktor internal atau eksternal, tidak kita sadari keberadaannya, namun mengakibatkan gejala fisik dan emosi. Keempat, komponen somatosensori yaitu sensasi yang dirasakan di tubuh fisik seperti sakit, tegang, kesemutan, perubahan temperatur kulit, hipersensitif terhadap sentuhan atau cahaya, dan sensasi lainnya. Dari keempat komponen ini, komponen emosi berperan sebagai perekat yang menyatukan komponen-komponen lainnya.

Bila disederhanakan, memori traumatik hanya terdiri atas dua komponen utama, narasi kejadian dan emosi. Setiap kali seseorang mengingat kembali kejadian traumatik, yang terjadi adalah ia secara sadar memilih dan mengaktifkan satu memori spesifik, dari sekian banyak memori di pikiran bawah sadar, dan “menaikkan” data ini ke memori kerja pikiran sadarnya. Pada memori traumatik ini lekat pula emosi intens yang turut aktif saat memori diaktifkan. Emosi ini selanjutnya memengaruhi tubuh melalui jalur somatosensori. 

Para peneliti awal trauma seperti Janet dan Freud menyatakan bahwa trauma membuat invididu, yang mengalaminya, mengalami fiksasi dan terkunci di masa lalu, dan dalam kasus tertentu menjadi obsesif dengan trauma. Janet mengamati perilaku dan perasaan para kliennya yang meliputi mimpi buruk, reaksi intens dan berlebih terhadap stimuli sederhana, rasa takut berlebih tanpa alasan jelas, dan kesedihan mendalam tanpa tahu apa penyebabnya. Mereka tersandera di masa lalu, tak berdaya untuk lepas dari situasi ini. Memori-memori kejadian ini tidak memudar atau hilang seiring waktu berjalan seperti memori pada umumnya, bahkan setelah puluhan tahun kemudian. Bagi para korban ini, masa lalu selalu hadir di masa sekarang (Van der Kolk, Weisaeth, dan van der Hart, 2007).

Mekanisme suatu kejadian disimpan dalam bentuk memori disebut konsolidasi. Konsolidasi adalah proses menstabilkan jejak memori setelah akuisisi awal. Konsolidasi kejadian bermuatan emosi intens terdiri atas dua tahap. Konsolidasi sinaptik di amigdala dan hipokampus yang terjadi dengan cepat dalam rentang waktu beberapa menit, melibatkan reseptor-reseptor glutamat, norepinefrin, kortisol, dan senyawa kimiawi lain. Selanjutnya, konsolidasi sistem terjadi saat memori ini menjadi independen, berdiri sendiri, lepas dari hipokampus, dalam rentang waktu beberapa minggu hingga bertahun-tahun kemudian. Memori-memori traumatik ini disimpan di korteks otak. Dan saat ini, proses ketiga, rekonsolidasi, sedang menjadi fokus penelitian, yaitu memori yang sebelumnya telah terkonsolidasi dapat dibuat labil lagi, melalui reaktivasi jejak memori. Pada kejadian yang bersifat traumatik, komponen emosi, konten sensori, dan konten kognitif terikat menjadi satu, menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Proses fundamental dalam pembentukan memori bergantung pada neurotransmiter glutamat dan reseptor-reseptornya. Glutamat adalah asam amino eksitator yang dibutuhkan untuk setiap pembelajaran baru dan menghubungkan materi baru dengan yang telah dipelajari sebelumnya (Rainine dan Ressler, 2009). Memori traumatik dapat digambarkan sebagai jalur neuron menghubungkan reseptor-reseptor glutamat yang tercipta saat individu mengalami kejadian traumatik. Saat jalur neuron ini teraktivasi ulang oleh pemicu, individu mengalami kembali kejadian seolah-olah baru terjadi (revivifikasi). Ini dinamakan konsolidasi sinaptik. Aktivasi ulang jalur sinaptik neuron yang dikonsolidasi oleh glutamat, pada saat mengingat kembali kejadian traumatik, membuat jalur ini rentan untuk diputus (Nader, Schafe, dan LeDoux, 2000).

Traumatisasi dari Perspektif Neurosains

Proses trauma berawal dari masuknya informasi, pengalaman atau kejadian yang dialami seseorang, melalui lima indra dan masuk ke otak untuk diproses lebih lanjut menggunakan dua jalur. Jalur pertama, informasi dari mata, telinga, kulit (sentuhan), dan lidah (pengecapan) masuk ke talamus. Talamus berperan sebagai kantor pos, mendistribusi informasi ke bagian otak yang sesuai untuk memrosesnya. Bila informasi yang masuk dipersepsi sebagai ancaman maka, dari talamus, ia langsung dikirim ke amigdala. Bila informasi awal dipersepsi bukan sebagai ancaman, ia akan dikirim ke korteks untuk dianalisis. Namun bila hasil analisis korteks menyatakan bahaya, informasi ini langsung dikirim ke amigdala melalui hipokampus.

Kedua, informasi dari indra penciuman, hidung, tidak melalui talamus, namun langsung dikirim ke accessory basal nucleus (AB) amigdala, bila informasi dipersepsi sebagai ancaman, dan ke korteks untuk dianalisis, bila tidak dipersepsi sebagai ancaman. Namun bila korteks menyatakan ini adalah ancaman, informasi langsung dikirim ke amigdala, melalui hipokampus, untuk ditindaklanjuti. Bau, stimulus yang dibawa oleh angin, digunakan sebagai informasi akan keberadaan predator dan ini butuh respon cepat sehingga tidak melewati talamus.

Amigdala, khususnya bagian kanan, berperan besar dalam mengendalikan respon emosi dan fisiologis, terdiri dari beberapa wilayah yang disebut nuclei. Ada lima nuclei: lateral nucleus (LA), basolateral nucleus (BLA), basomedial nucleus (BM), central nucleus (CE), dan accessory basal nucleus (AB). LA, BLA, dan AB membentuk kesatuan yang disebut basolateral complex atau BLC. BLC adalah tempat di mana informasi berbahaya atau mengancam keselamatan hidup memulai proses aktivasi tindakan dan emosi (Rainine dan Ressler, 2009).

Bagian korteks yang berperan melakukan evaluasi kondisi bahaya dan berpengaruh dalam proses traumatisasi adalah medial prefrontal cortex (mPFC). Ia memiliki hubungan timbal balik dengan amigdala. Saat BLC amigdala pertama kali merasakan emosi takut, ia akan menghambat dan mencegah mPFC agar tidak mematikan respon takut. Hal ini bertujuan untuk menyiapkan tubuh dan pikiran untuk bersiap lari (flight) atau lawan (fight). Bila setelah dilakukan evaluasi oleh mPFC ternyata ancaman ini tidak benar atau signifikan maka mPFC segera mengirim sinyal inhibisi (hambatan) ke amigdala dan menekan respon takut tersebut. Dalam kondisi ketakutan atau kemarahan ekstrim, atau kondisi stres kronis, sinyal inhibisi yang dikirim oleh mPFC ini menjadi sangat lemah dan tidak lagi dapat memengaruhi amigdala.

BLC amigdala adalah tempat memroses komponen emosi dari memori, namun ia bukan tempat memori. BLC mengaktifkan CE dan wilayah otak lainnya, termasuk hipokampus dan medial prefrontal korteks (mPFC). BLC juga mengirim sinyal ke hipokampus (Strage dan Dolan, 2004), struktur penting di otak untuk proses encoding dan pengambilan kembali komponen kognitif. BLC adalah tempat di mana komponen sensori dan konteks kejadian memulai proses penggabungan/asosiasi.

Respon emosi terhadap ancaman bergantung pada BLC mengaktifkan bagian amigdala lainnya, central nucleus (CE). CE mengaktifkan dan mengkoordinir respon fisik (Tanimoto dkk, 2003) terhadap input sensori yang mengendalikan proses somatik, endokrin, dan autonomik. CE mengirim sinyal ke wilayah yang terlibat dalam fight atau flight, evaluasi bahaya, motivasi bertindak, kewaspadaan, orientasi, freeze (tubuh kaku), memori, dan persepsi sakit (Akmaev, Kalmillina, dan Sharipova, 2004).

Trauma dan Sakit Fisik

Rasa sakit fisik yang terjadi saat kejadian traumatik disimpan di memori otak. Hal ini pertama kali dijelaskan di akhir tahun 1800an oleh Charcot, Janet, Freud, dan Breuer yang meyakini bahwa stimuli dari pikiran bawah sadar dapat menyebabkan sakit di fisik dan simtom somatik lainnya. Mereka percaya bawah rasa sakit terekam bersama trauma psikologis namun terpisah dari kesadaran normal. Dengan demikian, rasa sakit hanya bisa dihilangkan bila pengalaman traumatik “dibawa naik” ke kondisi sadar normal sehingga diketahui dan diproses tuntas.

Sarno (2006) menyatakan simtom fisik muncul sebagai upaya mencegah kemarahan dan berbagai emosi negatif lain yang terekam di pikiran bawah sadar naik ke permukaan dan disadari individu. Ketidakmampuan mengekspresi emosi negatif intens bisa berasal dari rasa takut akan hukuman, perasaan tidak berdaya yang dipelajari, kebutuhan akan kendali, dan kebutuhan untuk terlihat atau tampil sebagai “orang baik”.

Bila dicermati, bagian tubuh yang sering sakit adalah punggung, leher, kepala, dan tungkai atas. Banyak juga yang mengatup rahang dan menggerinda giginya. Ini semua adalah wilayah otot yang digunakan saat marah. Sakit leher, punggung, dan sindroma sendi rahang (temporomandibular) kerap dijumpai dalam praktik klinis.

Saat seseorang mengalami trauma, misalnya tabrakan dengan mobil lain, ia tidak merasakan sakit fisik, walau sebenarnya tubuhnya, misal kepala, mengalami benturan atau luka. Ini adalah pengaruh CE amigdala. Pada CE amigdala terdapat pusat sakit yang disebut nociceptive amigdala. Di sini sinyal sakit yang berasal dari bagian otak lainnya dikelola. Pada saat invididu mengalami flight (lari), fight (lawan), atau marah, terjadi peningkatkan norepinefrin (NE) yang menghambat kerja nociceptive CE sehingga individu tidak bisa merasakan sakit.

Kejadian -> BLC -> NE meningkat -> nociceptive CE -> memengaruhi kesadaran -> sakit tidak dirasakan (tapi terekam di PBS)

Komponen somatik (fisik) dari trauma bisa berupa rasa sakit fisik, perasan terbakar, perubahan suhu tubuh, lemas tidak bertenaga, dan beragam simtom lain yang muncul di fisik.

Setelah kejadian kecelakaan dan individu mengingat atau melihat mobil yang sama atau serupa dengan mobil yang terlibat kecelakaan dengannya dulu, tiba-tiba muncul rasa sakit di kepala. Ini terjadi karena mobil, yang ia lihat atau ingat, menstimulasi BLC –> CE -> Sakit. Mobil tidak berbahaya atau mengancam sehingga batang otak tidak memproduksi norepinefrin dan individu merasa sakit, yang terekam di memorinya.

Traumatisasi dan Detraumatisasi dari Perspektif Neurosains

Merujuk pada uraian di atas maka proses traumatisasi, masuknya informasi ke otak hingga terekam sebagai memori traumatik, berlangsung sebagai berikut:  

Informasi -> talamus -> BLC amigdala -> muncul emosi takut atau marah defensif -> noerepinefrin (NE) dan kortisol di amigdala meningkat   -> Inhibisi mPFC -> informasi masuk ke amigdala -> lima syarat trauma terpenuhi -> reseptor glutamat di BLC amigdala terpotensiasi -> BLC mengikat komponen-komponen kejadian -> memori traumatik tercipta dan terekam di otak.

Potensiasi adalah meningkatnya jumlah dan kekuatan respon pascasinaptik yang diakibatkan oleh glutamat. Sinapsis, titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain, yang berhubungan dengan memori traumatik, yang ditemukan di BLC memiliki jumlah reseptor glutamat lebih banyak dari kondisi normal. Terapi paparan membuka reseptor-reseptor glutamat ini dan membuat jejak memori menjadi labil dan mudah dinetralisir (Rasolkhani-Kalhorn dan Harper, 2006).

Memori traumatik diaktifkan kembali oleh reseptor gulatamat overpotensiasi, alpha-amino-3-hydroxy-5-methyl-4-isoxazolproprioninc (AMPA) (Harper dkk, 2009). Depotensiasi terjadi melalui reseptor-reseptor glutamat ini, bisa menggunakan beragam teknik salah satunya hipnoterapi klinis, menghilangkan reseptor aktif AMPA, mencegah neuron menumbuhkembangkan memori traumatik dan komponen-komponennya (Ronald, 2014)

Mengacu pada model di atas, untuk dapat menetralisir atau menyembuhkan memori traumatik, langkah pertama adalah mengaktifkan kembali memori ini, secara sadar atau sengaja, dengan cara mengingat kembali kejadiannya. Konten memori yang telah aktif ini akan masuk ke memori kerja dan selanjutnya mengaktifkan BLC amigdala. Aktivasi ini berhubungan dengan pelepasan glutamat di jalur khusus neuron BLC saat kejadian traumatik terekam (encoding) di memori otak. Proses penyembuhan trauma adalah dengan decoding, yaitu membalik proses encoding sehingga mencegah BLC mengirim sinyal ke CE, yang akan mengaktifkan locus coeruleus, di batang otak, menghasilkan norepinefrin untuk menyiapkan pikiran menghadapi kondisi genting, dan wilayah otak lain di mana komponen memori lainnya tersimpan.

Mengaktifkan memori adalah satu hal. Langkah selanjutnya, yang menjadi kunci penyembuhan trauma adalah menetralisir emosi pada kejadian paling awal. Tanpa menghilangkan emosi, yang adalah salah satu komponen penting trauma, klien akan kambuh dan simtom muncul kembali bisa dalam bentuk yang sama atau lain (Sarno, 2006).

Simtom trauma sejatinya tidak disebabkan oleh kejadian pemicu. Simtom bersumber dari residu energi yang terperangkap dalam sistem saraf dan sangat menganggu keseimbangan serta kesejahteraan tubuh dan pikiran. Residu ini terjadi karena individu tidak dapat menyelesaikan proses melewati atau keluar dari kondisi tak berdaya saat mengalami kejadian (Levine, 1997).

Dari dua pendapat di atas, Sarno (2006) dan Levine (1997), jelas sekali bahwa dalam proses detraumatisasi sangat penting menetralisir emosi yang lekat pada memori. Dan memori yang perlu diaktifkan, agar proses detraumatisasi dapat tuntas dilakukan, adalah memori paling awal (Ronald, 2014).

Proses detraumatisasi dengan hipnoterapsi klinis dari perspektif neurosains:

Aktivasi komponen emosi dari kejadian traumatik -> memori kerja -> hipokampus -> aktivasi reseptor BLC glutamat di amigdala -> restrukturisasi kejadian dengan hipnoterapsi klinis -> serotonin meningkat -> GABA meningkat -> depotensiasi reseptor glutamat di BLC -> keluaran amigdala menurun -> komponen emosi pada kejadian dinetralisir -> Trauma sembuh.

Kadar serotonin, sebagai neuromodulator, berkaitan erat dengan ketahanan seseorang terhadap trauma. Bila kadar serotonin meningkat, daya tahan terhadap trauma juga meningkat. Demikian pula sebaliknya. Bila kadarnya rendah, seseorang menjadi rentan terhadap trauma. Sementara GABA (gamma-aminobutyric acid) adalah asam amino inhibitor (penghambat) neuron lain dan bekerja berlawanan dengan glutamat.

Proses Hipnoterapi Klinis

Dari uraian di atas tampak bahwa proses hipnoterapi klinis memengaruhi dan mengakibatkan terjadinya depotensiasi reseptor glutamat di BLC. Tapi, bagaimana caranya?

Dalam hipnoterapi klinis, terapis membimbing klien untuk melakukan aktivasi komponen emosi dari kejadian traumatik dengan meminta klien mengingat dan merasakan kembali kejadian beserta emosinya. Informasi ini masuk ke memori kerja untuk diproses. Selanjutnya terapis menuntun klien menemukan awal mula kejadian pertama yang menjadi akar masalah klien, menggunakan teknik yang sesuai. Kejadian paling awal disebut initial sensitizing event (ISE). Di ISE akan dilakukan pengurasan emosi, bila terdapat emosi intens, hingga benar-benar tuntas, dan dilanjutkan dengan restrukturisasi kejadian dengan teknik partial atau complete rewriting history (Gunawan, 2017).

Bila rangkaian kejadian mengikuti alur normal maka saat klien mengalami revivifikasi, lima komponen trauma kembali muncul: kejadian, makna, kondisi senyawa kimiawi otak, perasaan terperangkap, dan perasaan tidak berdaya. Dalam proses hipnoterapi klinis dilakukan intervensi pada kelima komponen ini.

Klien mengalami kejadian yang sama namun dengan beberapa perubahan pada komponen atau alur cerita. Klien dituntun untuk memberi makna baru pada kejadian yang ia alami. Senyawa kimiawi otak tentu juga berbeda karena klien menjalani proses hipnoterapi dalam kondisi hipnosis dalam. Klien juga disiapkan untuk mengalami kejadian, dengan teknik tertentu skenario diatur sedemikian rupa sehingga ia tahu di depan apa yang akan terjadi, dan ini membuat klien tidak merasa terperangkap dalam situasi itu. Dan yang terutama, dalam diri klien tidak muncul perasaan tidak berdaya karena ego strength-nya telah mengalami penguatan.

Bila trauma telah berhasil diatasi, klien menjadi tenang, rileks, dan saat diminta mengingat kembali kejadiannya, bisa terjadi salah satu dari lima kemungkinan berikut:

1.     Klien bisa mengingat kejadian dengan jelas namun perasaannya datar, tidak lagi merasakan emosi negatif yang sebelumnya sangat mengganggu dirinya.

2.     Klien sulit atau tidak bisa mengingat kejadian.

3.     Klien bisa mengingat namun kejadiannya kabur dan tidak lengkap, muncul hanya sepotong-sepotong.

4.     Klien bisa mengingat kembali namun ia melihat kejadian itu dari kejauhan, sebagai pengamat atau disosiatif.

5.     Klien bisa mengingat kejadian. Namun peristiwa inti yang sebelumnya menyebabkan trauma menjadi kabur atau tidak ada, yang ada hanyalah detil peristiwa atau situasi yang berada di sekitar peristiwa inti. 

Baca Selengkapnya

Memahami Trauma dan Penyebabnya

18 Desember 2017

Setiap trauma pasti melibatkan emosi intens. Namun, tidak setiap kejadian dengan emosi intens mengakibatkan trauma. Kejadian sama, dialami dua individu, bisa mengakibatkan hasil yang berbeda. Yang satu mengalami trauma, sementara yang satu lagi sama sekali tidak terpengaruh. Lalu, apa faktor yang menentukan satu kejadian akan bersifat traumatis atau tidak? Pertanyaan ini sangat menggelitik rasa ingin tahu, membuat penasaran, dan tentu sangat butuh dijawab tuntas.

Kata “emosi” berasal dari bahasa Latin “emovere”, yang berarti bergerak melewati atau keluar. Dengan demikian, emosi sejatinya merujuk pada tindakan aktif. Dalam bahasa aslinya, emosi sama sekali tidak mengandung makna kelekatan atau penolakan terhadap tindakan, namun emosi secara alami mengalir melalui atau keluar dari diri.

Emosi sangat memengaruhi hidup kita, baik disadari atau tidak. Ortony, Norman, dan Revelle (2005) menyatakan emosi dihasilkan pada tiga level: reaktif, rutin, dan reflektif. Emosi paling primitif adalah yang bersifat reaktif. Emosi ini telah ada dalam diri kita sejak lahir, dan berfungsi untuk memastikan kita bisa tetap selamat.

Emosi ini adalah takut dan marah yang bersifat defensif, yang muncul sebagai respons terhadap hal-hal yang dipersepsikan sebagai ancaman. Emosi takut telah ada sejak lahir. Bayi lahir dengan membawa dua rasa takut, takut suara keras dan takut jatuh. Sementara marah muncul belakangan. Takut dan marah memiliki fungsi spesifik, dalam konteks keselamatan individu. Dua emosi dasar ini memberikan energi untuk lari atau melawan.

Emosi rutin adalah emosi yang kita alami sehari-hari, meliputi perasaan senang, bahagia, kagum, terganggu, malu, cemas, terinspirasi, berani, egois, bangga, sedih, kaget, marah, jengkel, kesal, takjub, dan yang lain.

Emosi-emosi ini muncul, bertahan sebentar, lalu memudar, dan dilanjutkan dengan munculnya emosi lain. Emosi rutin tidak menyebabkan trauma. Mereka memberi warna kepada kehidupan yang kita jalani.

Emosi reflektif muncul sebagai hasil dari kerja bagian otak, lobus prefrontalis. Emosi reflektif meliputi marah, rasa bersalah, benci, kesedihan mendalam, cemburu, cinta, balas dendam, dan yang lain. Emosi reflektif, sama seperti emosi reaktif, berpotensi mengakibatkan trauma. Emosi reaktif dan reflektif menyebabkan perasaan tidak nyaman dan sedapat mungkin kita berusaha menghindarinya.

Takut muncul dalam berbagai situasi atau momen. Ada momen di mana kesadaran dan kewaspadaan kita terhadap lingkungan meningkat, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kita berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dalam situasi ini muncul rasa takut sebagai mekanisme perlindungan diri terhadap sesuatu yang dirasa berbahaya. Bila ternyata tidak ada yang membahayakan diri, kita kembali pada kondisi normal, rasa takut pun hilang dengan sendirinya.

Takut juga muncul saat diri kita dalam bahaya, seperti sedang berhadapan dengan ular atau dikejar anjing liar. Takut menempatkan kita dalam mode lari (flight) untuk bisa menyelamatkan diri.

Takut tipe ketiga muncul di saat kita panik. Kita dibanjiri perasaan seolah kita akan meninggal, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ada perasaan kelebihan beban, tidak mampu.

Takut tipe keempat muncul saat kita berhadapan dengan situasi yang diyakini akan segera membuat kita meninggal. Kita masuk ke kondisi kesadaran lain. Waktu melambat, tubuh tidak lagi merasa sakit atau sensasi lain, dan menjadi tidak responsif, kaku, disebut thanatosis.

Setiap jenis takut berhubungan dengan ciri neurobiologis unik. Ciri ini terdiri atas hormon stres berbeda yang mengalir melalui otak dan tubuh, meningkatkan respons untuk keselamatan hidup.

Saat emosi dapat mengalir keluar secara alamiah atau mampu dialirkan keluar dari sistem diri dengan sengaja, maka tidak akan terjadi masalah. Masalah muncul saat emosi menumpuk dalam diri, biasanya melalui proses represi kronis, dan mewujud dalam bentuk simtom pada aspek kognisi, emosi, dan fisik.

 

Dua Sistem Keselamatan Hidup

Manusia memiliki dua sistem keselamatan hidup: aversive dan appetitive survival system. Emosi reaktif dan reflektif adalah bagian dari aversive survival system. Sistem ini mengaktifkan emosi takut dan marah saat individu berhadapan atau mengalami kejadian yang mengancam, di mana ia harus bisa lari lebih cepat atau lebih kuat sehingga bisa mengalahkan predator. Takut juga aktif untuk menghindarkan kita dari melakukan sesuatu yang menghasilkan rasa bersalah, malu, marah, dan emosi mengganggu lainnya.

Appetitive survival system memelihara keselamatan hidup dengan cara mendorong atau memotivasi kita untuk memenuhi kebutuhan fisik, mencari makan, minum, dan seks. Sistem ini memotivasi kita dengan menghasilkan perasaan lapar, haus, dan hasrat pemenuhan kebutuhan seks yang bertindak sebagai stresor. Semakin lama kebutuhan ini tidak terpenuhi, semakin besar stres yang dialami individu, semakin tinggi motivasinya.

Kedua sistem ini saling terhubung untuk mencapai tujuan serupa, keselamatan dan kelanjutan hidup. Dengan demikian, tidak heran bila dalam gangguan yang melibatkan dorongan apetitif abnormal seperti adiksi atau makan kompulsif, sering ditemukan keberadaan emosi reaktif atau reflektif abnormal yang berasal trauma.

 

Memori untuk Keselamatan Hidup

Selain lari (flight) dan lawan (fight), untuk menjaga keselamatan hidup di masa depan, kita sangat perlu mampu menghindari situasi serupa yang di masa lalu bersifat membahayakan atau mengancam. Dengan demikian, kita butuh kemampuan untuk merekam dan mengingat kembali, dengan cepat dan akurat, memori-memori tentang situasi ancaman ini.

Ada dua cara untuk mencapai tujuan ini. Pertama, kita perlu mengalami secara langsung, dan kedua, otak kita merekam informasi dari sumber lain. Proses ini melibatkan amigdala dan hipokampus.

Salah satu cara paling cepat untuk menarik perhatian, membuat kita fokus, waspada untuk menghindari situasi yang mengancam adalah dengan melibatkan emosi. Di sinilah peran nyata amigdala dan hipokampus.

Amigdala akan bertanya pada hipokampus, menggunakan data yang telah terekam di memori otak, apakah situasi, kondisi, hal, benda, atau apa saja yang individu temui, aman atau berbahaya. Saat hipokampus memberi jawaban bahwa ini adalah sesuatu yang dipersepsi mengancam atau berbahaya maka amigdala akan menyalakan alarm tanda bahaya, muncul emosi intens dalam diri individu yang menyiapkan dirinya lari atau lawan.

Pengalaman traumatis meninggalkan bekas mendalam dalam psikis individu, terekam dalam bentuk memori “khusus” di otak, dan mengakibatkan perilaku tak lazim, sakit berkepanjangan, sensasi fisik yang bersifat mengganggu kenyamanan hidup.

Pengalaman terekam sebagai pengalaman traumatis saat momen lari atau lawan, saat upaya menghindari atau menghilangkan ancaman tidak dapat dilakukan. Pada saat inilah senyawa kimiawi otak seperti norepinephrine, dopamine, dan kortisol meningkat drastis dan memengaruhi otak dalam merekam informasi.

 

Komponen Memori Traumatis

Setiap memori traumatis melibatkan minimal empat komponen. Pertama, emosi atau perasaan. Kedua,
komponen kognitif pikiran sadar yaitu konten mental yang kita pikirkan atau perhatikan serta kita sadari keberadaan dan maknanya. Ketiga, komponen kognitif pikiran bawah sadar yaitu konten mental yang muncul karena terpicu oleh faktor internal atau eksternal, tidak kita sadari keberadaannya, namun mengakibatkan gejala fisik dan emosi. Keempat, komponen somatosensori yaitu sensasi yang dirasakan di tubuh fisik seperti sakit, tegang, kesemutan, perubahan temperatur kulit, hipersensitif terhadap sentuhan, dan sensasi lainnya.

Memori traumatis terbagi dua: memori traumatis (traumatic memory) dan memori traumatis disosiatif (dissociated traumatic memory). Memori traumatis adalah memori yang berisi narasi kejadian dan emosi yang lekat padanya, dan dapat diaktifkan secara sadar.

Sementara memori traumatis disosiatif adalah bentuk pikiran, perasaan, dan sensasi yang muncul dan dialami individu, tanpa aktivasi atau kendali secara sadar, biasanya terpicu oleh sesuatu hal yang seringkali tidak disadari oleh individu, dan muncul dalam bentuk kilas balik ingatan (flash back), mimpi buruk, pikiran intrusif/mengganggu, dan sensasi fisik.

 

Syarat Terjadi Trauma

Trauma selalu melibatkan emosi intens. Kita mengingat traumatisasi sebagai kondisi terperangkap dalam tindakan pelarian tak tuntas. Suatu kejadian untuk dapat terekam di otak sebagai memori traumatis membutuhkan lima syarat. Pertama, harus ada kejadian yang menghasilkan emosi. Kedua, kejadian ini memiliki makna bagi individu. Ketiga, kondisi kimiawi otak pada saat kejadian mendukung. Keempat, individu merasa kaget atau terperangkap, tidak bisa menghindar dari kejadian itu. Kelima, individu merasa tidak berdaya.

Yang dimaksud dengan kejadian adalah salah satu atau gabungan dari beberapa kemungkinan berikut: kita bisa mengalami sendiri, hanya menyaksikan, diberitahu baik oleh pihak kedua atau ketiga, membaca uraian kejadian, menonton siaran televisi, mengalami kejadian melalui mimpi, dan membayangkan kejadiannya di pikiran.

Contohnya, pada kecelakaan mobil. Kita bisa berada di dalam mobil, baik sebagai pengemudi atau penumpang, kita bisa menyaksikan terjadinya kecelakaan dan mendengar suara erangan atau rintihan kesakitan dari korban, melihat darah mengalir dari tubuh korban, atau kita bisa mendengar cerita orang mengenai kejadian itu, membaca kisah kecelakaan, menyaksikan tayangan video atau film kecelakaan, bermimpi mengalami kecelakaan, atau membayangkan mengalami kecelakaan, dan kita mengalami trauma.

Saya beberapa kali menangani klien yang takut naik pesawat karena ada rekan atau keluarga mereka yang mengalami kecelakaan pesawat dan meninggal. Ada klien yang karena sering membaca ulasan tentang kecelakaan pesawat ini, baik di media massa, tayangan televisi, dan melalui media sosial lainnya, turut menjadi trauma.

Trauma yang berasal dari cerita pihak kedua dan ketiga bisa terjadi karena pikiran kita mendramatisir kejadiannya. Ini jenis trauma yang dijumpai pada para pekerja sosial, terapis, pengacara, polisi, dan mereka yang rutin menangani trauma.

Pengalaman orang pertama tentu menghasilkan pengaruh emosi yang jauh lebih kuat daripada cerita orang ketiga, namun ini tetap perlu diwaspasi karena hasil penelitian menemukan para pekerja di bidang pemulihan trauma rentan terpengaruh dan perlu bersikap waspada terhadap risiko ini (Adams dan Riggi, 2008).

Komponen kedua untuk terjadi trauma adalah kejadian itu bermakna bagi individu. Makna muncul sebagai hasil dari kebutuhan bawaan akan kelekatan (attachment) pada hal-hal penting dalam hidup, dan pengalaman sebelumnya. Kelekatan yang dimaksud bisa berupa kelekatan pada hidup, pasangan, keluarga, orangtua, bagian tubuh, benda mati seperti rumah, mobil, cicin kawin, atau apa saja yang memiliki keterhubungan emosional intens dengan individu.

Makna juga bisa muncul berdasarkan pengalaman sebelumnya. Satu kejadian yang sebenarnya bersifat netral bisa memicu memori traumatis masa lalu dan mengakibatkan respon negatif. Terapis tidak dalam posisi untuk menentukan apakah suatu kejadian bermakna atau tidak bagi klien. Klien yang menentukan.

Dengan demikian, dalam upaya menemukan kejadian traumatis, perlu diperhatikan hal-hal yang tampak sepele karena bisa saja hal ini justru merupakan penyebab trauma.

Komponen ketiga, kondisi kimiawi otak pada saat kejadian. Ada lima senyawa kimiawi otak yang berperan dalam proses trauma, yaitu glutamate, dopamine, serotonin, norepinephrine, dan kortisol. Dalam kondisi normal, kelima senyawa kimiawi ini berperan sebagai neuromodulator, memengaruhi suasana hati, pemrosesan informasi, dan meningkatkan kerentanan kita terhadap trauma.

Saat stres akut, level dari senyawa kimiawi ini meningkat drastis dan mengakibatkan informasi diproses secara berbeda. Tubuh kita disiapkan untuk bertindak, perhatian kita menjadi fokus, kita siap bertindak, dan menyiapkan otak untuk menyimpan informasi yang akan segera masuk.\

Dopamine meningkat saat kita mencari keberadaan predator. Saat kita harus melawan atau lari, epinephrine menyiapkan tubuh dan norepinephrine menyiapkan pikiran. Serotonin juga meningkat sedikit untuk mencegah tubuh mengalami beban berlebih. Glutamate terlibat dalam semua proses ini. Sekali individu mengalami trauma, di kemudian hari ia menjadi lebih rentan mengalami trauma lagi.

Komponen keempat, perasaan kaget atau terperangkap. Menghindar dari situasi yang mengancam atau melawan sumber ancaman butuh gerak aktif. Upaya ini meliputi lari, mendorong, melompat, memukul, berenang, bersembunyi, memanjat, dan tindakan lainnya. Saat individu merasa tidak bisa bergerak, karena dikuasai rasa takut intens, situasi ini berpotensi besar menimbulkan trauma.

Persepsi terperangkap tidak perlu berlangsung dalam waktu lama, dan juga tidak perlu sampai disadari penuh. Perasaan terperangkap ini bisa dialami saat seseorang mengalami kecelakaan, saat jatuh, saat melintasi jembatan yang bergoyang, saat dituduh mencuri di depan umum, atau saat Anda diberitahu menderita kanker, baik itu benar atau salah diagnosis. Saat Anda mengalami kejadian dan tidak ada tempat untuk berlari atau bersembunyi, maka saat itulah perasaan diri kaget atau terperangkap terjadi dan dialami.

Komponen kelima, perasaan tidak berdaya. Saat individu merasa terperangkap namun masih bisa memikirkan jalan keluar atau ada yang memberi jalan keluar, maka ia masih memiliki harapan. Potensi mengalami trauma menurun drastis. Saat individu merasa sama sekali tidak ada jalan keluar dari situasi yang ia alami, muncul perasaan tidak berdaya. Bila kelima komponen ini lengkap hadir, maka kejadian yang dialami individu direkam di otak sebagai kejadian traumatis.

 

Kerentanan

Selain lima syarat di atas, kerentanan terhadap trauma sangat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya. Kejadian yang tampak sepele dapat menjadi trauma karena ia meneruskan dan bekerja berdasar akumulasi pengalaman sebelumnya (Chemtob, Nomura, dan Abramovitz, 2008; Gunawan, 2014).

Kerentanan terhadap trauma semakin meningkat bila individu terlalu berempati, berharga diri rendah, dan mengalami kesulitan dalam regulasi respons emosi. Dalam hipnoterapi klinis, kejadian tunggal dengan emosi intens dapat menjadi trauma. Ada pula kejadian dengan emosi yang kurang intens, namun karena ia memiliki kesamaan atau kemiripan dengan kejadian yang sebelumnya pernah dialami individu, mengakibatkan muncul trauma.

 

Solusi Trauma

Ada tiga pendekatan mengatasi trauma: psikoterapi, psikofarmakologi, dan terapi psikosensori.

Psikoterapi adalah upaya penyembuhan yang dilakukan dengan cara berkomunikasi verbal dengan klien. Beberapa pendekatan dalam psikoterapi antara lain kognitif, kognitif perilaku, rasional/emotif, psikodinamik, psikoanalisis, sistemik (termasuk terapi keluarga).

Psikofarmakologi adalah studi dan penggunaan zat kimia untuk mengubah suasana hati, sensasi, pemikiran, dan perilaku. Sementara terapi psikosensori adalah terapi dengan pendekatan tubuh-pikiran (body-mind).

Salah satu cara paling efektif, dalam psikoterapi, untuk mengatasi trauma adalah hipnoterapi.

Hipnoterapis, menggunakan teknik hipnoanalisis, menuntun klien menyusuri garis waktu, mundur ke masa lalu, melewati satu atau beberapa kejadian, dan akhirnya mencapai kejadian paling awal.

Saat kejadian-kejadian ini diproses tuntas, emosi yang lekat pada setiap kejadian dinetralisir, tentunya menggunakan teknik yang tepat, maka memori kejadian menjadi netral, tidak lagi mengganggu hidup individu dan klien sembuh dari trauma.

Baca Selengkapnya

Akar Masalah: ISE dan IEPCE

7 November 2017

Proses hipnoterapi, dalam upaya membantu klien mengatasi masalah, menggunakan dua pendekatan: tanpa memroses akar masalah dan memroses akar masalah.

Hipnoterapi tanpa memroses akar masalah dilakukan dengan memberi sugesti ke pikiran bawah sadar (PBS) klien, dengan tujuan menghilangkan simtom. Bila simtom hilang, masalah selesai. Bisa juga simtom tidak dihilangkan tapi dimodifikasi sehingga tidak lagi mengganggu hidup klien. Yang dimaksud dengan modifikasi di sini, bisa mengganti simtom dengan simtom lain yang lebih ringan, mengurangi intensitas simtom, mengurangi frekuensi munculnya simtom, atau mensugesti klien untuk mengalami kontraksi waktu sehingga simtom terasa hanya sekejap.  

Sementara pada pendekatan kedua, memroses akar masalah, butuh upaya yang lebih panjang dan menyeluruh, melibatkan proses mencari dan menemukan akar masalah, dan dilanjutkan dengan restrukturisasi kejadian paling awal.

Untuk menemukan akar masalah dibutuhkan teknik regresi yang sesuai agar informasi yang diungkap oleh PBS benar adalah kejadian paling awal. Di sini, selain teknik yang presisi juga butuh kecermatan dan kejelian terapis dalam menelisik jawaban yang diberikan PBS. Untuk itu terapis harus melakukan pengecekan, dengan teknik tertentu, guna memastikan kejadian yang diungkap PBS adalah benar kejadian paling awal.

Setiap simtom pasti memiliki akar masalah atau kejadian paling awal. Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology (AWGI) mengembangkan dan mengajarkan teknik untuk menemukan dua jenis akar masalah yaitu ISE dan IEPCE.

ISE (initial sensitizing event) adalah kejadian paling awal, bisa berupa pengalaman traumatik, atau pengalaman nontraumatik dan berlaku sebagai bibit yang, bila mendapat dukungan kondisi yang sesuai, akan menjelma menjadi masalah.

ISE biasanya diperkuat satu atau beberapa kejadian lanjutan yang disebut SSE (subsequent sensitizing event), membangun momentum hingga akhirnya tercipta simtom. Kejadian yang memunculkan simtom disebut SPE (symptom producing event). Simtom dapat semakin menguat akibat kejadian lanjutan yang disebut SIE (symptom intensifying event). ISE, bila berupa kejadian traumatik, dapat langsung menjadi SPE. SSE juga bisa menjadi SPE.

Rangkaian kejadian mulai dari yang paling awal hingga menjadi simtom dan terus mengganggu klien hingga masa kini adalah:

ISE à SSE 1 à SSE 2 à SSE ? à SPE à SIE à NOW

Mengacu pada alur di atas, bila terapis hendak menemukan akar masalah (ISE) maka ia menuntun klien menelusuri garis waktu di PBS, mundur dari NOW, hingga akhirnya berhenti di ISE.

Teknik untuk membawa klien mundur ke masa lalunya disebut regresi. Ada sangat banyak varian teknik regresi. Namun dari sekian banyak teknik ini, AWGI hanya menggunakan satu teknik regresi yang telah teruji secara klinis sangat akurat, presisi, dan efektif mengungkap akar masalah. Teknik ini juga telah banyak diulas di jurnal, salah satunya, International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis.

Menemukan akar masalah (ISE) adalah satu hal, dan memrosesnya dengan benar sehingga terjadi resolusi trauma tuntas adalah hal lain. Ini adalah dua keterampilan berbeda. Hanya menemukan ISE tidak bersifat terapeutik. Dalam banyak kasus yang pernah saya tangani, klien telah menjalani hipnoterapi dan menurut terapisnya telah berhasil menemukan “akar masalah”. Akar masalah ini tidak diproses. Terapis hanya memberitahu klien, “Sekarang sudah tahu akar masalah Anda? Peristiwa ini yang membuat hidup Anda susah.” Proses ini tidak tuntas karena akar masalah tidak diproses dan sudah tentu masalah klien tidak teratasi dan bisa kontraproduktif. Emosi yang muncul dari kejadian ini bisa sangat mengganggu hidup klien dan membuat klien menjadi tidak stabil.

IEPCE (Initial EP Creation Event) berbeda dengan ISE. IEPCE adalah kejadian paling awal yang menyebabkan munculnya EP. Watkins dan Watkins (1997) menyatakan ada tiga cara EP tercipta. Namun, riset yang dilakukan team AWGI menemukan ada sepuluh cara.

Dari satu kejadian paling awal (IEPCE) bisa tercipta sekaligus satu atau lebih EP dengan karakter berbeda. EP bisa mendapat penguatan pada satu atau lebih kejadian lanjutan yang disebut EPSE (EP Strengthening Event) yang semakin memperkuat EP. Semakin kuat EP, semakin kuat pengaruhnya terhadap hidup klien.

Teori dan teknik EP yang dikembangkan AWGI berbeda dengan yang sering dipraktikkan praktisi teknik Ego State (ES). Dalam teknik ES, terapis melakukan edukasi atau negosiasi dengan ES yang membuat masalah. Setelah tercapai kesepakatan, terapi diakhiri. Cara ini, dari pengalaman kami kurang efektif karena masalah klien masih bisa muncul lagi.

Dalam teknik EP yang kami praktikkan, usai melakukan negosiasi, kami perlu menemukan IEPCE. Untuk menemukan IEPCE biasanya akan melewati beberapa EPSE. Proses restrukturisasi pada IEPCE akan sangat memengaruhi karakteristik EP dan menghasilkan efek terapeutik yang jauh lebih stabil. Tidak mudah memang untuk menemukan EPCE namun bisa dilakukan dengan teknik yang tepat.

Rangkaian kejadian mulai dari yang paling awal, muncul EP, muncul simtom, EP  menjadi semakin kuat, dan terus mengganggu klien hingga masa kini adalah:

IEPCE à SIMTOM à EPSE 1 à EPSE 2 à EPSE ? à NOW

Proses regresi EP mencapai IEPCE dan regresi mencapai ISE walau berbeda namun memiliki kesamaan. Regresi ke ISE sejatinya adalah regresi EP. Bedanya pada jalur yang digunakan.

Dalam beberapa kasus, setelah menemukan dan memroses IEPCE, klien tetap merasa tidak nyaman. Untuk itu, terapis perlu melakukan regresi lagi, mencapai IEPCE dan biasanya EP yang muncul berbeda. Kondisi ini mengakibatkan penanganan simtom atau masalah menggunakan teknik EP menjadi lebih kompleks.

Temuan kami, IEPCE tidak selalu sama dengan ISE, walau dalam beberapa kasus bisa terjadi ISE adalah IEPCE. SSE juga bisa menjadi IEPCE. Mekanisme pembentukan EP, relasi antara IEPCE dan ISE serta SSE masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Kendala kami, selaku hipnoterapis kami tidak boleh melakukan eksperimen pada klien untuk sekedar mencari tahu apakah benar ISE atau SSE adalah sama dengan IEPCE klien. Ini melanggar kode etik. Temuan yang saya tulis dalam artikel ini berasal dari hasil diskusi dengan para rekan sejawat hipnoterapis, menelaah banyak kasus terapi, dan menarik simpulan sementara. 

Baca Selengkapnya

Hipnoterapis vs Genderuwo

20 Oktober 2017

Pengalaman terapi yang akan saya ceritakan kali ini benar-benar seru. Ceritanya begini. Seorang klien wanita, usia 40 tahun, sebut saja sebagai Ani, datang ke saya untuk minta tolong mengatasi masalah emosi dan juga sakit di leher sebelah kiri.

Soal emosi, ini karena relasi Ani dan suaminya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Mereka saling mencinta namun tidak saling memahami cara berkomunikasi dengan baik dan benar.

Akibatnya, ada banyak kejadian dan keributan dalam rumah tangga yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Semua emosi ini Ani tekan dengan harapan akan hilang dengan sendirinya. Saat Ani benar-benar marah, tapi ia tahan, tangannya sampai bergetar-getar dengan sendirinya. Sementara sakit di leher, menurut Ani, sudah ia rasakan mulai SMA. Ani juga mengalami sakit autoimun sehingga sendi-sendinya sakit.

Proses berikut ini dilakukan dalam kondisi hipnosis dalam dan Ani menutup mata. Untuk urusan emosi dengan suami, proses terapinya cukup alot, karena ada satu Bagian Diri atau Ego Personality (EP), berusia 8 tahun, merasa terluka dan tidak bersedia memaafkan suami Ani. EP ini menyatakan sudah bosan hidup dan mau mati. Sebagai terapis, saya sadar bila ada EP yang menyatakan seperti ini, ini kasus sangat serius, harus diproses tuntas.

Rapport dengan EP ini saya jalin dan pertahankan dengan tetap berlaku sabar, hormat, penuh kasih, menunjukkan empati mendalam atas apa yang EP ini alami dan rasakan. Setelah lima belas menit, akhirnya EP ini melunak dan bersedia saya bantu melepas semua emosi negatifnya terhadap suami Ani. Proses berlangsung alot karena EP masih berusia 8 tahun. Tentu dengan pola pikir, pemahaman, dan kebijaksanaan sesuai usianya.

EP yang fiksasi di usia 8 tahun ini, atas ijinnya, saya bantu tumbuhkan, menggunakan teknik khusus, menjadi EP dewasa agar bisa membantu Ani menjadi kuat dan bahagia menjalani hidup. Ini perlu dilakukan dengan sangat hati-hati menggunakan skrip yang telah disiapkan sebelumnya. Bila sampai salah kata, bisa berakibat sangat buruk bagi EP maupun klien.

Yang sangat menarik dan menantang adalah saat saya membantu Ani mencari akar masalah penyebab sakit di leher sebelah kiri. Menggunakan teknik hipnoanalisis, ada satu EP Ani memberitahu saya bahwa ada banyak yang mengikuti Ani. Menurut EP ini, yang menyebut dirinya sebagai Pelindung, ia berfungsi melindungi Ani dan sudah mengikuti Ani sejak ratusan tahun lalu.

Saya tanya apa maksudnya, Pelindung menjelaskan bahwa di dalam tubuh Ani ada banyak makhluk yang masuk dan menetap. Saya heran, bila fungsinya adalah melindungi Ani, lalu mengapa ia tidak mengeluarkan makhluk-makhluk ini dari tubuh Ani. Pelindung mengatakan bahwa dirinya kalah kuat. Ada satu makhluk yang sangat kuat dan ia tak kuasa menghadapinya.

Tiba-tiba tubuh Ani bergetar hebat, terutama tangan kanannya. Dan dari mulut Ani keluar suara keras diarahkan ke saya, “He… kamu jangan ikut campur urusan ini. Tidak usah ikut campur….”.

Saya tanya, “Anda ini siapa?” Suara ini dengan tegas dan kasar menjawab singkat, “Genderuwo.”

Saat saya minta ijin bicara dengannya, bukannya mengijinkan, ia malah marah besar. Genderuwo, menggunakan tangan dan jari telunjuk Ani, menunjuk muka saya sambil berkata, “Aku tidak takut sama kamu. Aku tidak mau bicara sama kamu. Aku tahu… kamu mau usir aku keluar dari badan Ani. Aku tidak mau keluar. Aku mau tetap tinggal di sini. Kalau aku tidak mau keluar, kamu mau apa?”

Genderuwo ini rupanya sudah siap konfrontasi dengan saya. Ia sama sekali tidak bersedia mendengar apapun yang saya sampaikan. Intinya, ia tidak mau keluar dari tubuh Ani. Ia dan kawan-kawannya masuk ke tubuh Ani karena, menurutnya, tubuh Ani bau harum akibat sering merasa sedih.

Cukup lama saya berusaha melakukan negosiasi, merayu, membujuk, memberi pengertian pada Genderuwo agar ia suka rela keluar dari tubuh Ani. Ia bergeming, tidak mau keluar. Saya menyadari situasi ini tidak baik untuk Ani. Semakin lama Genderuwo ini aktif, energi tubuh Ani akan semakin terkuras dan Ani menjadi semakin lemah. Semakin Ani lemah, semakin kuat Genderuwo menguasai diri Ani.

Setelah semua upaya dilakukan dan tidak berhasil, akhirnya saya memutuskan menggunakan teknik khusus untuk mengatasi situasi seperti ini. Usai saya jalankan teknik ini, pikiran bawah sadar Ani sendiri melakukan pembersihan menyeluruh dan mengeluarkan semua makhluk ini dari tubuhnya. Saya diam, menyaksikan, dan menunggu hampir 10 menit hingga akhirnya PBS menyatakan telah selesai melakukan pembersihan.

Apakah masalah sudah selesai? Belum.

Saya lanjut melakukan hipnoanalisis untuk menemukan akar masalah yang menyebabkan leher Ani sakit. PBS Ani menelusuri garis waktu dan mundur ke masa lalu, ke tiga kejadian berbeda. Pertama, Ani mundur ke usia 5 tahun.

Selanjutnya Ani mundur spontan ke kehidupan lampau, sebagai wanita berusia 70 tahun. Dan yang terakhir, ini adalah akar masalahnya, Ani mundur lagi, spontan, ke kehidupan lampau lainnya, seribu tahun lebih, sebagai wanita muda yang meninggal karena dibunuh suaminya, dibacok dengan parang di leher sebelah kiri. Sebelum dibunuh, Ani sangat ketakutan, tubuhnya gemetar, suaranya juga bergetar.

Penanganan dan penyelesaian kasus seperti ini, meninggal tragis dibunuh di kehidupan lampau, perlu ekstra hati-hati. Saat klien tahu bahwa ini adalah akar masalahnya, kasus ini tidak serta merta selesai dengan sendirinya. Ini baru langkah awal. Dibutuhkan resolusi trauma melalui rekonstruksi kejadian secara terstruktur, menetralisir emosi negatif yang terekam di PBS, pemaknaan ulang, rekonsiliasi dengan pelaku, pembelajaran dan memetik hikmah kejadian. Bila klien hanya tahu kejadiannya tapi tidak diproses, ini sama artinya klien kembali mengalami trauma, dibunuh. Bila ini tidak diproses, saat klien keluar dari kondisi hipnosis, ia telah mengalami mati dibunuh dua kali. Ini sangat berbahaya bagi kondisi mental dan emosi klien.

Setelah tiga kejadian ini diproses tuntas, saya melakukan pengecekan akhir guna memastikan bahwa semuanya telah benar-benar selesai, tidak lagi ada yang tersisa. Tidak terasa, proses terapi ini berlangsung sekitar empat jam.

Apakah benar di dalam tubuh Ani tinggal banyak makhluk? Bagaimana proses makhluk ini sampai bisa masuk ke tubuh Ani? Mengapa Genderuwo ini sangat kuat?

Bagi kami, hipnoterapis AWGI, ini bukan Gederuwo dalam arti sesungguhnya, tapi metafora yang dimunculkan PBS Ani. Gederuwo ini sebenarnya adalah manifestasi dari berbagai emosi negatif intens dalam diri Ani, yang selama ini ditekan, dan mewujud dalam satu EP. Sesuai teori EP yang kami kembangkan, kekuatan EP salah satunya ditentukan oleh intensitas emosi yang ia pegang.

Bagaimana dengan regresi hingga ke kehidupan lampau?

Yang dialami klien saya ini sifatnya spontan, tidak diarahkan. Kami, hipnoterapis AWGI, tidak dalam posisi dan berkepentingan melakukan validasi apakah benar klien mundur ke kehidupan lampau. Kami fokus pada apa yang diungkap oleh PBS klien. Apapun informasi yang terungkap, ini yang kami gunakan sebagai pintu masuk untuk menyelesaikan masalah klien secara tuntas.

Baca Selengkapnya

Mencabut Masalah Perlu Hingga ke Akarnya

20 Oktober 2017

Seorang klien, sebut saja sebagai Bagus, usia 43 tahun, menjumpai saya untuk mengatasi kebiasaan suka marah, bahkan untuk hal-hal sepele. Bila marah, emosi Bagus meledak, ia teriak, mengucapkan kata-kata kasar, membanting barang, dan bahkan bisa memukul diri sendiri.

Di sesi wawancara, Bagus cerita bahwa ia telah berusaha mengatasi masalah ini dengan jumpa psikiater, psikolog, pendoa, konselor namun belum memberikan hasil seperti yang ia harapkan. Ia juga telah mengikuti berbagai pelatihan, ia sebutkan nama pelatihan dan pengajarnya, baca banyak buku pengembangan diri dan buku-buku terapi. Ia juga telah mencoba teknik penyembuhan diri seperti EFT, teknik pelepasan emosi melalui senam atau kejut fisik, hingga hipnoterapi. Ia juga telah mencoba teknik swish pattern, collapsing anchor, mengubah submodalitas, pembersihan aura, cakra, dan masih banyak lagi. Intinya, menurut Bagus, ia telah mencoba hampir semua cara namun tetap belum berhasil mengatasi masalahnya.

Bagus bertanya pada saya mengapa semua cara yang ia telah ia coba belum bisa berhasil mengatasi masalahnya. Saya jawab, saya tidak bisa komentar karena bukan bidang keahlian saya. Yang saya tahu, setiap teknik punya kelebihan dan keterbatasan. Saya hanya bisa memberi jawaban pasti setelah melakukan hipnoanalisis pikiran bawah sadarnya.

Biasanya, bila klien telah mencoba sangat banyak cara untuk mengatasi masalahnya namun belum juga berhasil, ada dua kemungkinan penyebab. Pertama, pendekatan atau teknik terapi yang ia gunakan tidak efektif. Kedua, ia belum siap berubah. Saya secara khusus menyiapkan pikiran bawah sadarnya, bukan pikiran sadar, untuk berubah dengan mengajukan pertanyaan Priming the Subconscious for Change dan melakukan elaborasi mendalam.

Bagus merasa sangat yakin kemarahannya ini berasal dari masa kecilnya, kelas satu SD, saat ia dipukul oleh temannya, padahal ia tidak berbuat salah. Dan ketika kejadian ini diketahui gurunya, bukannya menegur teman yang memukulnya, guru justru memarahi dan menyalahkan Bagus. Ini membuat Bagus marah sekali pada gurunya tapi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya.

Saat saya tanya dari mana ia tahu atau yakin akar masalahnya adalah kejadian di kelas satu SD ini, Bagus mengatakan bahwa setiap kali ia marah, yang muncul selalu memori ini. Dan terapi yang telah ia lakukan, selama ini, fokus pada upaya untuk mengatasi kejadian ini. Memang setelah terapi ia merasa lega, nyaman. Namun beberapa hari kemudian, kambuh lagi. Ia bingung dan frustrasi dengan keadaannya.

Setelah merasa cukup mendapat informasi dari sesi wawancara, saya mulai melakukan hipnoterapi pada Bagus. Saya membimbing Bagus untuk masuk ke kondisi hipnosis dalam (profound somnambulism). Ini adalah kedalaman yang menjadi syarat untuk bisa melakukan hipnoanalisis, regresi berbasis afek, revivifikasi, teknik Ego Personality, mengaktifkan trance-logic, dan teknik-teknik intervensi lainnya dengan efektif.

Dengan teknik hipnoanalisis, khususnya regresi, pikiran bawah sadar Bagus mundur menelusuri garis waktu, melewati rangkaian lima kejadian. Pertama, ia mundur ke usia 12 tahun saat ia dikeroyok tiga temannya karena salah paham.

Kemudian, di usia 10 tahun, di kejadian ia dituduh mencuri uang temannya dan dipukul ibunya karena merasa malu, padahal Bagus tidak melakukan hal ini.

Mundur lagi ke usia 7 tahun, saat kelas satu SD, saat ia dipukuli temannya dan setelahnya dimarahi guru. Ini kejadian yang Bagus dewasa ceritakan sering muncul saat ia marah. Dan ternyata ini bukan akar masalah. Kemudian Bagus mundur ke usia 2 tahun saat ia melihat kedua orangtuanya ribut besar.

Bagus sangat ketakutan dan kasihan pada ibunya. Bagus marah pada ayahnya dan merasa tidak berdaya karena tidak bisa membantu dan melindungi ibu.

Terakhir, ia mundur ke masa dalam kandungan, sebagai janin berusia 2 bulan. Di kejadian ini, ibunya merasa sakit hati, marah, dan ribut besar dengan ayah Bagus karena sering pulang malam dan berjudi. Dan yang lebih parah lagi, ayah Bagus mengadu pada ibunya, neneknya Bagus, dan si nenek ini ikut-ikutan memarahi ibunya Bagus. Ibu Bagus merasa tidak bisa menghadapi kedua orang ini akhirnya memendam perasaan marahnya. Dan tanpa ia sadari, kemarahan ini diserap oleh janin dalam kandungannya.

Saat Bagus lahir, tanpa ia sadari, di pikiran bawah sadarnya telah ada emosi marah yang cukup intens, yang berasal dari ibunya. Emosi ini mendapat penguatan lanjutan dari beberapa kejadian hingga akhirnya menjadi masalah, tanpa Bagus pernah tahu apa penyebabnya.

Untuk bisa benar-benar mengatasi masalah ini, saya membantu Bagus menyelesaikan satu demi satu kejadian, dengan cara menuntun dan mengarahkan Bagus mengeluarkan emosinya dengan cara yang aman, terkendali, hingga tuntas, dan melakukan rekonsiliasi dengan pelaku pada kejadian-kejadian ini.

Apakah sudah selesai sampai di sini? Oh, belum. Ini baru separuh jalan.

Untuk memastikan emosi pada lima kejadian ini, terutama pada kejadian paling awal, telah benar-benar tuntas teratasi, Bagus masih perlu melewati satu tahap lagi. Ini adalah tahap pemeriksaan final yang dilakukan pada pikiran bawah sadar untuk memastikan semua emosi negatif ini telah tuntas teratasi dan tidak ada Bagian Diri yang keberatan atas semua perubahan positif yang telah terjadi pada Bagus.

Ini tahap penting karena seringkali masih ada sisa emosi yang tidak lagi klien rasakan, karena telah sangat samar atau halus, dan bila tidak benar-benar bersih, ia bisa menjadi akar yang menumbuhkan kembali masalah serupa.

Usai terapi Bagus merasa sangat lega. Dan dalam sesi wawancara pascaterapi, Bagus menyatakan ia kini mengerti mengapa selama ini masalahnya tidak bisa tuntas teratasi. Ternyata, proses terapi yang ia lakukan selama ini bukan pada akar masalah. Dan ia sama sekali tidak menyangka kalau akar masalahnya berasal dari masa dalam kandungan. Total waktu yang dibutuhkan untuk terapi sekitar 3,5 jam.

Satu minggu kemudian Bagus memberi kabar bahwa ia sekarang sudah sangat nyaman. Ia tidak lagi mudah marah karena hal-hal sepele. Dan kalaupun marah, emosi marah atau kesal yang ia rasakan masih dalam batas yang wajar dan bisa ia kendalikan.

Baca Selengkapnya

Antara Kesaksian, Klaim, dan Evidence-Based

20 Oktober 2017

Di satu temu ilmiah yang saya hadiri, salah satu topik menarik yang dibahas adalah teknik terapi yang marak dipraktikkan oleh para penyembuh di Indonesia. Narasumber, doktor neurosains dan peneliti lulusan salah satu perguruan tinggi terkenal di Jepang, menyampaikan pesan agar kami, para peserta, perlu hati-hati agar tidak asal percaya begitu saja pada satu teknik yang diklaim efektif.

Ini menyegarkan kembali ingatan saya akan diskusi dengan guru hipnoterapi saya, Randal Churchill, kala saya menyelesaikan sertifikasi CCH (Certified Clinical Hypnotherapist) di San Fancisco sekian tahun lalu.

Randal berkali-kali mengingatkan pentingnya terapis bersikap kritis saat mencermati dan memelajari teknik terapi karena apa yang kami lakukan di ruang praktik sangat memengaruhi hidup klien. Randal menyebut teknik yang sebenarnya tidak efektif tapi diklaim atau dipublikasi gencar efektif sebagai teknik Brush Off.

Terkait teknik terapi, saya sering mendapat pertanyaan dari para Sahabat dan juga pembaca buku. Mereka umumnya ingin ikut pelatihan tertentu dan minta pendapat saya apakah teknik A atau B itu benar efektif.

Saya tentu tidak bisa memberi komentar karena tidak tahu atau memelajari teknik terapi yang dimaksud. Dan yang bisa saya berikan adalah petunjuk sebagai acuan untuk menilai kinerja suatu teknik terapi. Dan acuan ini juga saya gunakan untuk menentukan apakah suatu teknik benar efektif sehingga perlu dipelajari, terutama untuk menyeleksi pengajar di Amerika yang akan saya hadiri pelatihannya.

Pertama, ada teknik yang dinyatakan efektif hanya berdasar kesaksian atau testimoni klien. Untuk ini, kita perlu cek dan mencari tahu sudah berapa banyak klien yang berhasil sembuh dengan menggunakan teknik ini, dan apa saja masalah yang berhasil disembuhkan. Semakin banyak kesaksian, semakin beragam masalah yang berhasil disembuhkan dengan teknik ini, kita bisa semakin yakin.

Yang sering terjadi, hanya dengan kesaksian satu atau dua klien, terapis atau pengajar teknik ini langsung melakukan generalisasi bahwa teknik ini efektif untuk mengatasi berbagai masalah. Ini tentu tidak tepat. Satu atau dua kasus tidak serta merta boleh digunakan sebagai alasan melakukan generalisasi.

Ada lagi teknik terapi yang diklaim efektif oleh pengajarnya. Ini juga perlu dicermati dengan hati-hati. Klaim adalah pernyataan sepihak. Dan dasar klaim ini juga perlu ditanyakan dengan jelas.

Yang paling baik adalah teknik terapi yang telah diteliti dengan prosedur penelitian yang sahih dan evidence based, dan terutama telah dipublikasi di jurnal ilmiah. Ini yang paling kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kebiasaan bersikap kritis inilah yang membuat saya sangat hati-hati, selektif, dan tidak mudah percaya pada teknik terapi yang dinyatakan atau diklaim efektif. Dulu waktu belum memahami prinsip ini saya menghabiskan uang cukup banyak membeli berbagai video terapi dari luar negeri, masing-masing dinyatakan sangat efektif oleh si pengajar. Hasilnya? Kecewa berat. Banyak yang sama sekali tidak bisa digunakan.

Bagaimana bila ada teknik yang belum pernah diteliti tapi dinyatakan atau diklaim efektif?

Kembali pada prinsip di atas. Coba cek sudah berapa banyak klien yang berhasil disembuhkan dengan teknik ini. Semakin banyak, semakin baik. Walau teknik ini belum pernah diteliti dan dipublikasi di jurnal ilmiah, bila ia telah banyak menyembuhkan klien dengan beragam masalah maka teknik ini sangat layak untuk dipelajari dan dipraktikkan.

Kita juga perlu hati-hati dengan terapi yang dilakukan di atas panggung atau di depan orang banyak. Seringkali terapi ini berlangsung cepat dan di akhir terapi, terapis akan bertanya pada klien, "Bagaimana, sudah sembuh, kan? Sudah enak, nyaman?" Klien bisa saja menjawab, "Ya... saya sudah lebih nyaman sekarang."

Apakah teknik ini efektif? Belum tentu. Klien bisa menjawab demikian karena sungkan, kasihan, atau tidak ingin membuat malu terapis di depan orang banyak. Bisa juga klien telah benar sembuh.

Satu pertanyaan kunci yang sering orang lupa tanyakan, "Berapa lama perubahan ini bisa bertahan?"

Teknik terapi yang benar-benar efektif adalah yang mampu membuat perubahan positif dalam diri klien, tidak penting perubahan ini dicapai dalam waktu singkat atau perlu beberapa sesi, dan bisa bertahan (sangat) lama, stabil.

Dan tentu akan sangat mencerahkan bila saat suatu teknik terapi diajarkan, teknik ini juga langsung dipraktikkan dan terbukti mampu mengatasi masalah klien.

Inilah esensi terapi sebenarnya. Perubahan terjadi, secara positif, dan bertahan lama untuk kebaikan klien. Bila perubahan ini hanya sifatnya sesaat, tidak stabil, maka teknik ini tidak layak untuk dipelajari dan dipraktikkan.

Pertanyaan kunci untuk menilai suatu teknik efektif adalah dari hasil terapinya, "Does it HOLD?" (apakah hasilnya bertahan lama/stabil)

Demikianlah kenyataannya.....

Baca Selengkapnya

Fobia dan Cara Mengatasinya

11 Oktober 2017

Fobia, menurut American Psychiatric Association, adalah rasa takut irasional dan berlebih terhadap suatu objek atau situasi. Ada sangat banyak fobia. Seiring perkembangan jaman, muncul fobia-fobia baru seperti nomofobia atau ketakutan bila tidak memiliki akses atau kesempatan menggunakan telepon genggam. 

Fobia dikategorikan sebagai gangguan kecemasan karena rasa cemas adalah emosi paling dominan yang dirasakan penderitanya. Rasa cemas biasanya berlanjut menjadi rasa takut, yang bila tidak ditangani dengan benar bisa berubah menjadi serangan panik. Adapun simtom yang berhubungan dengan fobia meliputi antara lain sesak napas, mual, pusing, gemetar, detak jantung meningkat, pandangan menjadi kabur, tubuh menjadi dingin, atau berkeringat.

Penyebab Fobia

Saat bayi lahir, ia hanya punya dua rasa takut: takut suara keras dan takut jatuh. Dengan demikian, takut-takut lainya ia pelajari dari lingkungan dalam proses tumbuh kembangnya, termasuk fobia.

Setiap fobia pasti memiliki kejadian paling awal yang membuat anak menjadi sensitif terhadap sesuatu. Kejadian paling awal ini disebut ISE atau initial sensitizing event. Selanjutnya anak akan mengalami satu atau beberapa kejadian lanjutan yang disebut dengan SSE atau subsequent sensitizing event hingga akhirnya muncul simtom berupa rasa takut berlebih. Walau jarang terjadi, ISE bisa langsung menyebabkan terjadinya fobia dalam diri seseorang.

Dari pengalaman klinis dan temuan di ruang praktik, seringkali ISE adalah kejadian sepele. Saya pernah membantu seorang klien fobia kecoak. Saat dilakukan hipnoanalisis untuk mencari akar masalah, ditemukan kejadian paling awal yaitu saat ia berusia lima tahun, sedang mandi dan tiba-tiba ada seekor kecoak muncul, entah dari mana, dan membuatnya kaget. Usai kejadian ini ia belum takut kecoak. Klien mengalami beberapa kejadian lanjutan, yang berhubungan dengan kecoak, antara lain ia melihat ibunya panik dan berteriak saat ada kecoak, hingga akhirnya rasa takut ini menjadi sangat kuat dan menetap dalam dirinya, menjadi fobia.

Ada lagi klien, seorang pria, takut tikus. Kejadian paling awal adalah saat berusia tujuh tahun, malam hari, ia berjalan di kebun dan tidak sengaja menginjak tikus. Tikusnya menjerit kesakitan, klien kaget karena merasa ada yang kenyal di telapak kakinya. Sejak saat itu ia fobia tikus.

Ada juga anak yang belajar menjadi fobia dari orang tua, terutama ibunya. Saat anak berulang kali melihat perilaku ibunya yang merasa takut berlebih pada sesuatu, ia belajar dan menyerap perilaku ibu ke dalam dirinya. Dengan pengulangan, akhirnya fobia ibu juga tercipta dalam diri si anak. Rasa takut berlebih bisa terhadap serangga, binatang, orang, benda, situasi, atau apa saja.

Cara Kerja Fobia

Prinsip kerja fobia sebenarnya sederhana. Fobia adalah program pikiran yang tercipta melalui suatu proses. Ia selalu menautkan dan terdiri dari dua hal, pemicu dan emosi. Bila, misalnya, seseorang fobia jarum suntik, maka jarum suntik adalah pemicu yang akan mengaktifkan emosi tertentu, misalnya cemas, takut, atau ngeri. Pemicu ini bisa berupa sesuatu yang nyata, klien melihat langsung jarum suntik, atau hanya dalam imajinasi, gambar, atau mendengar cerita tentang jarum suntik.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sumber masalah terletak bukan pada objek atau situasi, sebagai pemicu, tapi lebih pada emosi yang terpicu. Bila variabel emosi dapat dihilangkan maka tidak ada lagi yang bisa dipicu, klien sembuh. Pemicu ini bisa berupa gambar, suara, rasa, bau, sensasi fisik, atau perasaan yang terhubung dengan rasa takut atau cemas intens.

Mengatasi Fobia

Ada banyak cara mengatasi fobia. Dari semua cara ini, bila ditelisik lebih mendalam, sejatinya hanya terbagi menjadi dua kategori: memroses akar masalah dan tanpa memroses akar masalah.

Bila fobia diatasi dengan cara pertama, memroses akar masalah, maka terapis akan melakukan hipnoanalisis guna mencari dan menemukan kejadian paling awal penyebab fobia.

Saya pernah membantu klien fobia ular. Ternyata akar masalahnya sangat sederhana. Klien, saat berusia 5 tahun, sedang jalan di kebun, dan tiba-tiba jumpa bangkai ular. Klien kaget luar biasa. Saya memroses kejadian ini dan setelahnya klien langsung sembuh dari fobianya.

Ada banyak varian teknik mengatasi fobia tanpa memroses akar masalah atau sering disebut content free. Yang paling umum adalah desensitisasi. Bila fobia tercipta karena proses sensitisasi maka desentisasi membalik proses ini sehingga, diharapkan, fobia bisa hilang.

Dalam proses desensitisasi, klien dipertemukan dengan objek yang membuatnya takut, misal ulat. Ulat ini diletakkan agak jauh dari klien. Klien tentu merasa tidak nyaman. Namun, setelah beberapa saat, rasa tidak nyaman ini akan berkurang dan terus berkurang hingga ke level yang bisa ditolerir atau dikendalikan. Setelahnya, ulat ini semakin didekatkan pada klien. Proses ini terus diulangi dengan semakin mendekatkan objek pada klien hingga akhirnya objek berada di depan klien namun klien tidak lagi merasa takut.

Cara lain adalah flooding. Bila desensitisasi berusaha menghilangkan rasa takut secara gradual, flooding adalah kebalikannya. Klien langsung dihadapkan pada objek yang ia takuti. Bila fobia ulat, klien akan dihadapkan dengan banyak ulat. Bila fobia ketinggian, klien akan langsung dibawa ke tempat tinggi. Logika di balik teknik ini adalah saat klien dihadapkan pada objek fobia, emosi yang muncul dalam dirinya akan sangat intens. Namun emosi ini tidak bisa terus meningkat atau bertahan selamanya, karena sampai pada satu titik, energi yang dibutuhkan sebagai bahan bakar emosi akan habis. Dan pada saat inilah intensitas emosi mulai menurun hingga akhirnya dapat dikendalikan.

Fobia juga bisa diatasi dengan sugesti, baik melalui proses swahipnosis atau heterohipnosis. Ada beberapa variabel yang perlu diperhatikan agar sugesti bisa bekerja maksimal mengatasi fobia. Pertama, skrip sugesti disusun menggunakan struktur yang benar agar dapat memberi pengaruh maksimal ke pikiran bawah sadar klien. Ada empat belas aturan yang perlu diindahkan saat menyusun skrip sugesti. Kedua, kedalaman hipnosis yang dicapai klien harus sesuai untuk kebutuhan teknik ini, minimal profound somnambulism, lebih dalam lebih baik. Ketiga, cara terapis menyampaikan sugesti pada klien. Keempat, intensitas emosi karena fobia, dan tingkat resistensi dalam diri klien terhadap sugesti.

Terapi kognitif dan perilaku (CBT) juga masuk kategori ini. Demikian pula EFT (Emotional Freedom Technique) dan beberapa teknik terapi berbasis NLP seperti mengubah strategi, mengubah submodalitas, swish pattern, collapsing anchor, dan fast phobica cure.

Fobia akan sangat mudah diatasi bila bersifat lapis tunggal, bukan lapis banyak. Yang dimaksud lapis tunggal adalah bila rasa takut pada objek atau situasi tertentu bukan berupa terusan dari objek atau situasi lain. Bila fobia bersifat lapis banyak maka harus dilakukan penelusuran di pikiran bawah sadar untuk menemukan akar masalah agar bisa tuntas. 

Baca Selengkapnya

Saya Tidak Bisa Dihipnosis, Kata Siapa?

19 September 2017

“Pak Adi, saya ini sudah ke tujuh hipnoterapis. Tidak ada satupun yang bisa hipnotis saya. Semua hipnoterapis bilang saya tipe orang yang tidak bisa dihipnotis,” demikian kalimat pembuka yang diucapkan seorang klien saat duduk di ruang praktik saya, sambil menunjukkan wajah agak frustrasi.

“Pertama, saya mau luruskan penggunaan istilah. Yang benar adalah “dihipnosis”, bukan “dihipnotis”. Hipnosis adalah ilmu, sedangkan hipnotis adalah orang yang melakukan hipnosis. Hipnoterapis adalah orang yang melakukan terapi dengan bantuan atau dalam kondisi hipnosis,” jelas saya pada klien.

Cukup sering saya jumpa klien yang telah “shopping” ke beberapa terapis dan dikatakan tidak bisa dihipnosis. Dalam beberapa kesempatan diskusi dengan rekan sejawat, hipnoterapis AWGI, mereka juga kerap jumpa klien yang oleh hipnoterapis lain dinyatakan tidak bisa dihipnosis. Apakah benar ada orang tidak bisa dihipnosis?

Untuk mengenali individu yang bisa mendapat manfaat maksimal dari hipnosis, dan untuk menyelidiki karakteristik kondisi hipnosis, selama lebih dari lima puluh tahun, para pakar dan peneliti telah mengembangkan sejumlah skala untuk mengukur dan menentukan responsiveness atau kesigapan (kecepatan dalam merespon) hipnotik. Namun, manfaat skala-skala ini, dalam konteks klinis, masih terus menjadi perdebatan hingga saat ini, khususnya aplikasi klinis dari hipnosis (hipnoterapi).

Pengukuran kesigapan hipnotik yang dinyatakan dalam skala-skala ini, dibuat terutama berdasar pada sejumlah perilaku konsisten yang muncul dalam kondisi hipnosis, seperti katalepsi, mata tertutup, amnesia, dan respon pascahipnosis. Tes yang diberikan pada individu juga terus mengalami revisi oleh pencipta skala ini, dan tes-tes ini masih terus dikembangkan. Skala-skala yang paling umum digunakan para peneliti dan klinisi, secara singkat, adalah sebagai berikut:

Stanford Hypnotic Susceptibility Scale (SHSS), Forms A, B, and C (Weitzenhoffer dan Hilgard, 1959, 1962). Formulir A telah menjadi standar bagi skala-skala respon hipnotik lainnya. Formulir A dan B, berisi 12 tes, terutama menguji respon fungsi motorik. Formulir C mencakup lebih banyak tes guna mengukur fantasi dan distorsi kognisi.

Harvard Group Scale of Hypnotic Susceptibility, Form A (Shor dan Orne, 1962). Skala ini adalah adaptasi dari SHSS, Formulir A, dan digunakan untuk group.

Stanford Profile Scales of Hypnotic Susceptibility (SPS), Forms I and II (Weitzenhoffer dan Hilgard, 1963). Penggunaan skala ini butuh waktu lebih lama daripada SHS, namun skala-skala ini lebih baik dalam mengenali individu dengan suseptibilitas tinggi. SPS juga menyediakan informasi diagnostik lebih banyak bagi peneliti yang ingin memilih individu dengan suseptibilitas moderat hingga tinggi dengan talenta hipnotik spesifik.

Stanford Hypnotic Clinical Scales for Adults (Hilgard dan Hilgard, 1975) dan Stanford Hypnotic Clinical Scale for Children (Morgan dan Hilgard, 1979). Skala-skala ini telah distandarisasi mengikuti SHSS dan dipersingkat untuk penggunaan klinis. Skala dewasa berisi lima item dan butuh waktu dua puluh menit pelaksanaan. Skala anak digunakan untuk anak usia enam hingga enam belas tahun.

Children’s Hypnotic Susceptibility Scale (London, 1963). Skala ini mengukur respon anak terhadap sugesti hipnotik. Ada juga formulir, untuk anak usia 5 – 12 tahun, dan 13-16 tahun. Skala ini terdiri atas 22 item dan butuh waktu sekitar satu jam untuk pelaksanaannya.

Barber Suggestibility Scale (Barber dan Glass, 1962). Skala ini digunakan, terutama, untuk tujuan eksperimen, meliputi delapan uji sugesti terstandarisasi dan butuh 10-12 menit pelaksanaan.

Creative Imagination Scale (Wilson dan Barber, 1978). Skala ini dirancang untuk memehuni kebutuhan akan uji sugesti permisif terstandarisasi untuk keperluan eksperimen dan klinis. Ia dapat diberikan kepada perorangan atau kelompok, dengan atau tanpa didahului induksi hipnotik, dan butuh waktu pelaksanaan sekitar 23 menit.

Hypnotic Induction Profile (HI) (Spiegel, 1973). HIP adalah skala pertama yang dirancang secara khusus untuk tujuan klinis. Ia berfungsi baik sebagai induksi maupun uji sugestibilitas yang dapat dilaksanakan hanya dalam waktu 5-10 menit.

Alman-Wexler Indirect Hypnotic Susceptibility Scale (Wexler, 1982). Tes ini berdasar pada Harvard Group Scale, namun tidak seperti skala-skala Harvard yang menggunakan bahasa langsung (direct), skala Alman-Wexler menggunakan bahasa tidak langsung (indirect).

Beberapa peneliti berusaha mencari korelasi antara kesigapan hipnotik dan variabel usia, jenis kelamin, dan kepribadian. Ternyata, tidak terdapat perbedaan signifikan antara pria dan wanita dalam hal kesigapan hipnotik (Weitzenhoffer dan Weitzenhoffer, 1958). London dan Cooper (1969) menemukan anak-anak lebih responsif dibandingkan orang dewasa. Sementara studi yang dilakukan Hilgard dan Morgan (1973) pada 1.232 subjek menemukan kesigapan hipnotik mencapai puncak pada usia antara 9 – 12 tahun dan menurun secara gradual setelahnya. Studi yang dilakukan di laboratorum menunjukkan korelasi positif antara kesigapan hipnotik dan kemampuan menghilangkan persepsi sakit melalui hipnosis (Evans dan Paul, 1970; Hilgard dan Hilgard, 1975). Peneliti lain menemukan korelasi positif antara kesigapan hipnotik dan keberhasilan terapi (Frankel, dkk., 1979; Mott, 1979).

Skala suseptibilitas hipnotik, dengan demikian, dipandang sebagai prediktor keberhasilan dalam seting klinis. Namun, banyak klinisi mempertanyakan asumsi ini. Salah satu poin penting yang masih menjadi perdebatan yaitu konsep hipnotisabilitas, mudah atau sulit seseorang masuk kondisi hipnosis, adalah sifat bawaan sejak lahir, bervariasi antara satu orang dengan yang lain, namun sifatnya konstan dalam diri seseorang (Morgan, Johnson, dan Hilgard, 1974). Implikasi serius dari konsep ini yaitu bila klien “tidak bisa dihipnosis” maka dengan sendirinya hipnosis tidak boleh digunakan untuk menerapi klien ini.

Walaupun benar bahwa individu dengan skor tinggi pada skala terstandarisasi adalah kandidat baik untuk penanganan menggunakan hipnosis, orang-orang yang mendapat skor rendah tidak seharusnya diabaikan. Beberapa pakar memandang hipnosis sebagai keterampilan (skill), bukan sifat bawaan (trait). Dari penelitian diketahui bahwa banyak metode bisa diterapkan untuk memodifikasi keterampilan ini, seperti meniru, instruksi, dan berlatih (Kinney dan Sachs, 1974; Diamond, 1977; Reilley, Perisher, Corona, dan Dobrovolsky, 1980). Gardner dan Olness (1981, p.25) menyatakan bahwa kemampuan seseorang mengalami hipnosis kini lebih tepat disebut sebagai “kemampuan merespon”, bukan “suseptibilitas”. Ini berimplikasi pada pemahaman bahwa sejatinya untuk mengalami kondisi hipnosis, kendali sepenuhnya ada dalam diri klien, bukan terapis. Bila kemampuan merespon dapat ditingkatkan, dan dari pengalaman kami, hipnoterapis AWGI, sangat bisa dan mudah dilakukan, maka tidak ada klien yang boleh disebut sebagai “tidak bisa dihipnosis” karena semua orang sebenarnya bisa masuk kondisi hipnosis, asalkan ia menginginkan dan mengijinkan.

Dalam seting eksperimen, penggunaan pengukuran respon hipnotik terstandar memberi informasi berharga perihal karakteristik hipnosis dan mengidentifikasi subjek yang paling responsif. Namun, satu hal yang sangat perlu diperhatikan, skor rendah pada skala hipnotisalibiltas tidak serta merta berarti hipnosis tidak efektif sebagai modalitas terapi.

Respon hipnotik juga sangat dipengaruhi oleh motivasi. Perry, Gelfand, dan Marcovith (1979) menemukan motivasi pasien adalah faktor paling penting yang menentukan keberhasilan intervensi menggunakan hipnosis untuk mengurangi kebiasaan merokok. Faktor motivasi klien untuk sembuh dari suatu masalah, situasi, atau kondisi yang mengganggu hidupnya tidak bisa muncul dengan kuat dalam eksperimen yang dilakukan di laboratorium universitas yang menggunakan mahasiswa sebagai subjek penelitian. Sudah tentu ini sangat memengaruhi skor yang dicapai saat menjalani tes terstandarisasi. Dan seperti yang dinyatakan oleh Crasilneck dan Hall (1975), “The only final reliable test of hypnotizability is a clinical attempt at induction, repeated several times (Satu-satunya tes akhir hipnotisabilitas yang dapat diandalkan adalah upaya induksi klinis yang dilakukan beberapa kali.)”

Tapi, mengapa hingga kini masih ada hipnoterapis suka melabel klien mereka “tidak bisa dihipnosis”?

Ada beberapa kemungkinan penyebab klien “tidak bisa dihipnosis”. Pertama, bila terapis berpegang pada hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium, seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa individu terbagi menjadi mudah, moderat, sulit, sangat sulit atau tidak bisa dihipnosis, maka pemahaman ini dengan sendirinya mewujud dalam praktik yang ia lakukan. Saat ia mengalami kendala menuntun kliennya masuk kondisi hipnosis, alih-alih mencari tahu mengapa ini terjadi atau menyesuaikan teknik induksi mengikuti karakter klien, terapis dengan cepat menyimpulkan bahwa kliennya masuk kategori tidak bisa dihipnosis. Dengan demikian, upaya induksi tidak perlu dilanjutkan. Kedua, terapis tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk melakukan hipnosis. Ini berkaitan erat dengan pendidikan hipnoterapi yang pernah ia jalani, dan akumulasi pengalaman yang telah ia kumpulkan melalui praktik hipnoterapi berkelanjutan. Ketiga, teknik induksi yang terapis gunakan tidak tepat. Keempat, dan ini adalah alasan paling utama klien tidak bisa masuk kondisi hipnosis, adalah klien tidak percaya, tidak nyaman dengan terapis, dan ada rasa takut, baik pada terapis atau pada proses hipnosis/hipnoterapi yang akan ia jalani. 

Baca Selengkapnya

Hipnosis dan Fenomenanya

3 September 2017

Hipnosis berkembang pesat di Indonesia sejak tahun 2004. Seiring perjalanan waktu, pemahaman awam tentang hipnosis saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan waktu dulu. Melalui edukasi konsisten yang dilakukan para pengajar hipnosis dan hipnoterapi, baik melalui pelatihan maupun berbagai publikasi di media sosial, kini banyak warga masyarakat telah memiliki pemahaman benar tentang hipnosis. Walau demikian, dalam beberapa kali perjumpaan dengan klien di ruang praktik dan juga saat seminar publik, masih juga ada mispersepsi tentang hipnosis.

Memahami hipnosis diawali dengan definisi yang benar. Saat berselancar di dunia maya, saya menemukan hal menarik terkait definisi hipnosis. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online atau daring (https://kbbi.web.id) mendefinisikan hipnosis sebagai keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.

Kesalahan terkandung dalam definisi ini sangat mengganggu. Pertama, hipnosis adalah keadaan seperti tidur. Yang benar, hipnosis bukan tidur. Dalam kondisi hipnosis subjek tetap sadar sepenuhnya. Kedua, orang yang dihipnosis berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugesti. Yang benar, operator tidak bisa mengendalikan pikiran subjek. Ketiga, sujek menjadi tidak sadar sama sekali. Yang benar, dalam kondisi hipnosis, sedalam apapun, subjek tetap sadar.

Hal kurang tepat lainnya adalah penggunaan istilah “hipnotis”. Banyak yang menyamakan “hipnosis” dan “hipnotis”. Ini tampak dalam kalimat “Terapis menghipnotis klien” atau “Saya tidak takut dihipnotis.” Hipnosis adalah ilmunya. Sementara hipnotis adalah orang yang mempraktikkan atau melakukan hipnosis. Hipnoterapis adalah orang yang melakukan terapi di dalam atau dengan bantuan kondisi hipnosis. Ini sama seperti penggunaan kata “piano” dan “pianis”. Piano adalah alat musiknya, sementara pianis adalah orang yang memainkan piano. Dengan demikian, kalimat yang benar adalah “Terapis menghipnosis klien” atau “Saya tidak takut dihipnosis.”

Pemahaman lama, yang masih dipegang terapis tradisional, hipnosis adalah kondisi yang diciptakan atau dilakukan terapis pada klien. Dengan demikian, orang yang dihipnosis adalah objek, bukan subjek. Yang benar, terapis tidak bisa melakukan tanpa ijin klien. Semua hipnosis pada dasarnya adalah swahipnosis (self-hypnosis). Artinya, kemampuan untuk masuk dan keluar kondisi hipnosis adalah kemampuan bawaan (innate), ada dalam diri individu, tanpa perlu dipelajari secara khusus. Hipnoterapis modern paham benar bahwa setiap orang pasti bisa masuk kondisi hipnosis. Tugas terapis adalah menuntun klien, atas persetujuannya secara sadar, mengakses dan menggunakan kemampuan bawaan yang klien miliki, beralih dari kondisi sadar normal dan masuk ke kondisi kesadaran khusus, yang disebut kondisi hipnosis, atau dikenal dengan Altered State of Consciusness (ASC).

Pemahaman salah lainnya, hipnosis mampu menyembuhkan masalah klien. Dalam konteks klinis, hipnosis per se, tidak terapeutik. Kroger (1977) dengan tegas menyatakan pasien tidak diobati dengan hipnosis, tetapi dalam hipnosis. Hipnosis hanya satu kondisi kesadaran. Dalam kondisi inilah dilakukan “kerja” untuk membantu klien mengatasi masalahnya. Ini sama seperti pasien yang akan menjalani operasi. Sebelum dokter melakukan pembedahan, pasien perlu dibius terlebih dahulu. Bius, sendiri, tidak menyembuhkan pasien. Apa yang dokter lakukan atau kerjakan saat pasien dalam kondisi terbius inilah yang menyembuhkan pasien.

Suatu kondisi dapat dinyatakan sebagai hipnosis, menurut Hilgard (1992), bila terdapat tujuh ciri berikut: berkurangnya fungsi perencanaan, atensi dan inatensi menjadi selektif, produksi fantasi dan memori visual masa lalu meningkat, terdapat toleransi pada distorsi realitas dan berkurangnya pengecekan realita, terjadi peningkatan sugestibilitas, terjadi penerimaan atas alih peran, dan terdapat, paling tidak sedikit, amnesia atas atau yang terjadi selama dalam kondisi hipnosis.

Kondisi hipnosis bersifat tidak statis, tunggal, melainkan dinamis, mulai dari hipnosis sangat dangkal, dangkal, menengah, dalam, hingga sangat dalam. Hipnosis, bila digabungkan dengan psikoterapi, dapat membantu klien memahami penyebab simtom, dan mengurangi atau menghilangkan simtom ini. Dalam kondisi hipnosis, dengan bimbingan terapis, klien dapat dilatih untuk mengalami kembali pengalaman traumatik, memodifikasi gambaran mental yang mengganggu, memulai pola atau pertahanan diri baru yang lebih sehat dan fungsional (Pratt, Wood, dan Alman, 1988).

Hipnoterapis modern memahami hipnosis sebagai proses belajar di satu level baru, bukan sekedar kepatuhan pada sugesti yang dirumuskan oleh terapis. Pembelajaran yang terjadi di pikiran bawah sadar, tentunya difasilitasi oleh terapis, inilah yang memberdayakan klien mengatasi masalahnya. Tanggung jawab terhadap proses dan hasil terapi ada pada klien dan terapis. Terapi adalah upaya bersama dari dua individu, klien dan terapis, satu yang sadar ada masalah, ingin masalahnya diatasi, bersedia bekerjasama penuh, dan satu lagi memiliki kecakapan untuk membantu mengatasi masalah. Keduanya bekerjasama secara harmonis sebagai tim untuk mencapai tujuan yang sama, seperti sopir dan navigator. Klien adalah sopir dan terapis adalah navigator.

Pemahaman tentang kerja hipnoterapi bisa didapatkan dari dua jalur: eksperimen yang dilakukan di laboratorium dan ruang praktik. Celah di antara keduanya tampak semakin melebar dalam pengertian konsep yang bermanfaat untuk satu, tidak selalu bisa diterapkan di satunya. Contohnya, dari hasil eksperimen di laboratorium, subjek terbagi menjadi tiga kategori: sangat mudah, moderat, sulit dihipnosis. Sementara dalam konteks praktik klinis, siapa saja yang butuh mengatasi masalah pasti bisa dengan mudah masuk kondisi hipnosis.

Berdasar pengalaman klinis, saya menemukan bahwa klien masuk ke kedalaman hipnosis, sedalam yang ia butuhkan untuk mengatasi masalahnya, dan bertahan sedangkal mungkin untuk melindungi dirinya dari hal-hal yang ia rasa atau yakini merugikan dirinya.

Dalam konteks klinis, masing-masing terapis juga memiliki acuannya sendiri untuk mengukur kedalaman hipnosis yang dicapai kliennya. Ada yang menggunakan fenomena fisik, sementara lainnya lebih mengutamakan fenomena mental.

Fenomena Hipnotik

Orang yang pernah mengalami kondisi hipnosis biasanya mengalami dan mengenali fenomema sangat berbeda dengan yang mereka alami dalam kondisi sadar normal, namun sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata. Beberapa perilaku terjadi dalam kondisi hipnosis, walau tidak selalu. Beberapa fenomena rutin terjadi di hipnosis dangkal, dan beberapa sering terjadi di hipnosis menengah dan dalam. Berikut ini adalah beberapa fenomena yang terjadi dalam kondisi hipnosis:

Inhibisi Berhenti (Hipnosis dangkal hingga menengah). Inhibisi, yang dalam kondisi sadar normal ada dan bekerja dalam diri individu, dalam kondisi hipnosis memudar sehingga memungkinkan ekspresi emosi, pikiran, dan pendapat mengenai suatu perilaku menjadi lebih mudah.

Perubahan dalam kapasitas aktivitas sadar (Hipnosis dangkal hingga dalam). Dalam kondisi hipnosis, orang menjadi enggan memulai tindakan yang biasanya dengan mudha mereka lakukan. Contohnya, saat telepon berbunyi, biasanya orang akan langsung berdiri dan menjawab telpon ini. Dalam kondisi hipnosis, orang yang sama, mendengar telpon berdering namun kurang berminat atau enggan menjawabnya karena perhatiannya sedang terfokus ke hal lain.

Sugestibilitas (Hipnosis dangkal hingga dalam). Kemampuan berespon positif pada ide-ide, baik diberikan oleh diri sendiri atau orang lain meningkat. Sugestibilitas adalah sine qua non hipnosis. Meningkatnya penerimaan sugesti berhubungan dengan menurunnya aktivitas ego kritis dan meningkatnya aktivitas ego pengamat, membuat pikiran bawah sadar lebih mudah diakses.

Keterpisahan (Hipnosis dangkal hingga dalam). Fenomena ini adalah proses di mana persepsi akan posisi tubuh dalam ruang dan waktu mengalami perubahan. Orang bisa melihat dirinya sendiri dari satu tempat. Fenomena keterpisahan ini dapat digunakan untuk manajemen rasa sakit.

Disosiasi (Hipnosis menengah hingga dalam). Kemampuan melihat diri sendiri dari jarak aman dan menyenangkan, yang sebenarnya terutama adalah fenomena kognitif, secara teoritis memungkinkan proses disosiasi emosi terjadi. Dalam kondisi hipnosis, seseorang dapat mengalami kembali pengalaman negatif, dengan cara disosiasi, dan tidak merasakan emosi negatif atau rasa sakit.

Katalepsi (Hipnosis menengah hingga dalam). Katalepsi adalah satu bentuk kekakuan otot yang membuat tungkai dapat bertahan pada satu posisi tertentu dalam waktu lama.

Regresi usia (Hipnosis menengah hingga dalam). Mengalami kembali pengalaman masa lalu dapat terjadi dalam dua bentuk: revivifikasi komplit dan parsial. Tiap bentuk revivifikasi memiliki cara kerja dan manfaatnya sendiri.

Amnesia (Hipnosis menengah hingga dalam). Amnesia spontan bisa terjadi secara alamiah dalam kondisi hipnosis menengah hingga dalam.

Aktivitas Ideomotor (Hipnosis menengah hingga dalam). Aktivitas gerakan otot dan sistem saraf, di luar kendali pikiran sadar, sebagai respon terhadap bentuk pikiran dan emosi, digunakan terapis untuk bekomunikasi dengan pikiran bawah sadar.

Halusinasi, positif dan negatif (Hipnosis menengah hingga dalam). Halusinasi meliputi kelima indra. Halusinasi positif artinya sesuatu yang riil ada namun dipersepsikan menjadi tidak ada. Sementara halusinasi negatif artinya sesuatu yang riil tidak ada dipersepsikan menjadi ada.

Hipermnesia (Hipnosis menengah hingga dalam). Hipermnesia adalah peningkatan daya ingat secara signifikan sehingga mampu mengingat hal-hal yang tidak dapat diingat dalam kondisi sadar normal.

Distorsi waktu (Hipnosis menengah hingga dalam). Dalam kondisi hipnosis, waktu dapat berjalan sangat lambat atau sangat cepat, dan batas antara masa lalu, sekarang, dan masa depan menjadi kabur.

Fenomena-femonena ini tidak eksklusif terjadi dalam kondisi hipnosis. Banyak juga yang terjadi di kondisi kesadaran lainnya, misal amensia. Amnesia bisa terjadi saat kita jumpa seseorang yang kita kenal dan mengalami kesulitan mengingat namanya. Demikian pula dengan halusinasi positif. Fatamorgana adalah satu bentuk halusinasi positif yang terjadi di gurun pasir.  

Baca Selengkapnya
Tampilan : Thumbnail List